ONE STEP CLOSER

Cita2, mimpi ataukah obsesi… Itu yang sering sekali aku tanyakan pada diriku sendiri. Didukung lingkungan pergaulan diantara orang2 pemimpi, sangat sukses membuatku menjadi pemimpi sejati.

Cita2 atau mimpi itu sudah ada sebelum aku lulus D4, yah..masih ingat sekali percakapanku dengan mantan “gebetan” tentang rencana masa depan, “aku mau kuliah sampai S2”, aku sok optimis

Rencana yang selalu aku yakinkan pada orangtuaku. Meyakinkan mereka, bahwa aku akan berusaha sendiri (dengan biaya sendiri) jika ingin kuliah lagi. Apapun itu aku harus survive… HARUS (pikirku saat itu)

Pikiran untuk bisa kuliah lagi tidak pernah hilang, bahkan semakin menjadi meski sudah bekerja dan mulai satu persatu teman2 sudah memulainya. Dimulai dengan pindah lokasi kerja agar bisa kuliah di kampus yang sama. Menjadi sangat polemik ketika tahu, biaya yang harus dikeluarkan.

Memulai menabung mimpi, mencari beasiswa. Sombong sekali..congkak sekali..sok sekali, orang yang otaknya pas-pasan seperti aku punya mimpi buat dapat beasiswa. Galau….kalau orang bilang sekarang. Antara keberanian yang didanai oleh mimpi dan juga ketakutan karena tidak percaya diri. Mulai maju mundur…

Tapi benar mungkin posisiku, berada dilingkungan pemimpi. Senang sekali memiliki sahabat2 yang selalu mendukung dan membantu mencarikan informasi. Dan beasiswa ini juga yang menjadikanku lebih hati-hati untuk mencari pasangan…hehee… Dan menjadi alasan terbesarku, jika sedang terpojok atas permintaan orang tua untuk “cepat-cepat menikah” πŸ™‚

Dimulai beasiswa kampus yang berbarengan dengan adanya beasiswa salah satu negara luar. Yippiii, akhirnya punya kesempatan. Mulai merapatkan diri untuk tes toefl, cari referensi penelitian, konsultasi ke dosen dan mencari dukungan / informasi semangat kanan kiri.

Dan ternyata membagi waktu untuk hal2 itu diantara waktu bekerja bukan hal mudah. Untungnya kerja shift, jadi bisa tuker jam kalau harus wara-wiri.

Ketika harus mempersiapkan walking interview di salah satu universitas luar (yg datang ke kampus), juga berbarengan deadline beasiswa dari kampus. Hari itu interview sama salah satu profesornya sohib (prof yg tampan, baek hati, single dan prof kesayangan –> katanya sohib). Aku sudah siap dengan pertanyaan yang mungkin diajukan dan sudah berlatih. Karena kepagian, aku mampir ke jurusan untuk melihat beasiswa dari kampus. Dan ternyata, deadlinenya sudah selesai, malah hari itu sudah wawancara… LEMES…itu yg aku rasakan. Bingung, pengen nangis, nyesel, dan merasa bersalah (soalnya maunya dapat beasiswa disitu aja, dan ibu sudah sering ngingetin untuk cek tanggal).

Dengan perasaan bingung, akhirnya kembali ke lokasi interview dan berusaha menenangkan diri. Bersujud pada yang Diatas, minta interviewnya dimudahkan (secara 1 kesempatan hilang di depan mata). Dan jauh dari perkiraan, dan entah apa yg terjadi interviewnya berjalan sangat buruk. Aku tak bisa mengerti apa yang prof itu ucapkan (entah karena aksen atau apa), sehingga interviewnya berlangsung sangat cepat (padahal aku ingin lebih lama).

Tambah down, sudah nangis2 sebelum pengumuman. Dan akhirnya, namaku tak disebut sampai akhir pengumuman. Aku ga dapat LoA ( Letter of Acceptance) dari profnya. Kalau pernah patah hati, mkn sedikit ngerti yang aku rasain. Memang sering patah hati tapi mungkin ini lebih berat…. Udah ga bisa ditahan, balik ke kos nangis kenceng, telp ibuk sampai uring2an sendiri, curhat by Fb ke temen2 (soalnya kan pada diluar). Dan hari itu benar2 berat, ga doyan makan dari pagi (saking panik) dan ga doyan makan sampai malam, bikin masuk angin, pusing…. TEPAR.

Mengutuk dan mulai mendendam sama tu prof, “awas aja, suatu saat kamu harus patah hati juga sama aku”, geblekkk… ya meski aku manis (mulai narsis), tapi kan orang c*n* s belum tentu suka…hahaa… Akhirnya disaranin buat apply online (duh emang sohib2ku mantap), masih di dukung, dihibur dan dikasih saran2.

Deadline online juga 2 mingguan dari terakhir interview. Kenapa ngotot sama beasiswa ini, yah meski bukan beasiswa pemerintah tp beasiswa ini terkenal lebih mudah daripada beasiswa lain, jadi peluangnya besar (kata temen2ku). Akhirnya dapat email dari prof yang kemaren interview. Katanya toeflku bukan standar internasional, emg udah di singgung waktu interview sie. Cuma karena ngikut kata2 sohib “HAJAR AJA”, yawes nekat ngirim toefl itu. Males2an klo mau toefl lagi. Bukan apa2, yah mkn karena otak pas2an itu, toefl itu udah aku lakuin sekitar 4 kali cuma buat dapat minimum. Rasanya udah “mbleneg” sama soal2 toefl, jadi klo mau toefl dalam waktu dekat ya kyknya bakal dapat nilai lebih buruk (alesan aja yah..hehee)

Akhirnya…

Udah patah hati ma beasiswa, ga se-napsu kemaren2, cenderung melupakan, sedikit apatis dan mulai fokus ma kerjaan…

Ternyata kemaren dapat email kalau aplikasiku ACCEPTED, cuma bisa melongo beberapa saat dan langsung panik lagi, sms ke sohib nyari info ternyata bener NAMAKU ADA DI DAFTAR…hiyaaaa…perasaannya campur aduk TAPI ga dapat FULL SCHOLARSHIP… cm dapat tutionnya aja. Berarti uang bulanan (makan plus asrama dll) ga dapat

Mulai deh alay, mojok trus nangis…

Berpikir, mimpiku dikalahkan oleh uang… akhirnya berpikir untuk give up..

Mulai diskusi sama ortu dan mereka bilang menyanggupi untuk sedikit membantu. Syaratnya aku harus kerja sambil kuliah. Okelah kalau beg..beg..begituh… ga pa pa lah klo harus NeKaWe.. hawa positif

Malamnya di telp sohib (dari negerinya sono), curhat, nyari inpo sama bilang klo ortu udah setuju dan dukung banget. Dan dia kasih wejangan2, gambaran2 keadaan kalau mungkin “akan sulit” jika harus nyambi kerja. Ya mungkin karena dia dapat full makanya dia kurang tau tentang prospek kerja disana. Tapi tau juga keadaan tu sohib sama tugas kuliah dan lab nya. Yang serba harus fokus dan jelas ga bs disambi. Yang tak pikir jenius ae udah sempet “ngesot-ngesot” sama kuliahnya apalagi aku nanti ya.. Galau lagi…

Semua semakin mengkhawatirkan, menakutkan dan membingungkan (mkn agak lebay, GALAU TINGKAT DEWA –> klo kata temenku). Dan entah apa aku mau meneruskan cita-cita itu meski jalannya mulai terbuka???

(BERSAMBUNG)

Advertisements

Senyum Semangat (Part 2)

Kadang ngerasa ga pede gitu, punya mimpi sekolah keluar (kyk sohib2). Rasanya kalau mengaca, diri itu kayak kucing pengen terbang gitu. Tapi entah kenapa, selalu ada keyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika ada usaha dan doa. Kata seorang teman, mungkin belum waktunya saja.

Kadang saya bertanya apakah ini hanya sebuah obsesi ato terbawa trend sohib.

Dan berhubung saya tidak abege lagi, jadi ijin oratu juga kadang seret. Ya taulah, anak cewek gitu kan..hehee

Mungkin banyak yang mengalami hal-hal seperti saya, hummm… Akhirnya saya berdamai dengan mimpi, orang tua dan lingkungan saya. Caranya dengan tetap berusaha menikmati setiap proses perjuangan, membuat rencana-rencana cadangan dan menyiapkan hati saya untuk setiap kondisi yang mungkin akan berbeda dari harapan.

Manusia hanya berusaha bukan dan saya percaya, walaupun usaha atau perjuangan saya tak ada yang membuahkan hasil Tuhan tetap akan menghargai usaha saya itu. Paling tidak saya pernah berusaha dan melakukan sesuatu kan. Yang jelas, BERJUANG DULU SEMAKSIMAL MUNGKIN πŸ˜€

Oke, semua… Mari kita semua senyum dan semangat ^_^

 

Senyum Semangat (part 1)

Berhubung udah hampir 1 jam mau balik tidur (habis kebangun), tp g berhasil2 jadi ngeblog aja… (skg pukul 01:40 WIB)

Udah lama g ngeblog, rasanya…humm… ada yg kurang gimana gitu (bo’ong) πŸ˜€ Dan ternyata saya emg tergantungan sama yg namanya mood. Emang 3 bln ini, byk yg terjadi (ya jelaslah, 3 bln ada 90 hr gitu kan..hehe). So, moodnya naik turun (kebanyakan turun) jadinya tiap mau nulis, macet dan aktivitas yg mulai sedikit amburadul.

Mulai “acara” nyari beasiswa yg bikin nangis2..haha… Keadaan kantor mulai g “nyaman” dan push ortu yg semakin “nakutin” @_@

Satu hal yg akhirnya saya yakini, bahwa ada istilah bertemanlah dengan orang baik maka kau akan baik (dan sebaliknya). Dan Tuhan sangat baik, saya selalu diberi kesempatan berada di lingkungan orang2 pintar dan jenius. Ya meski akhirnya saya jadi yg paling ga pintar…walah… Tapi harus tetep disyukuri, alhamdulillah, karena saya pernah “nemu” istilah beradalah di sekitar bintang, setidaknya jika bukan salah satu dari bintang itu, hidupmu akan terangΒ  karena disinari bintang2 itu… gitu ga sie, lupa2 ingat..haha…

Oke, mungkin agak ribet…

Saya jelaskan dengan contoh, sohib2 saya itu orang2nya pintar2, mulai dari esempe selalu dapat sohib gitu, jadi ngaruhnya ke saya pribadi, saya jadi ngerasa lebih semangat belajar karena tidak mau ketinggalan jauh dari mereka. Meski kenyataannya saya tetep aja dibawah mereka…hahha… Ya klo kita ber-5 gitu, klo dari prestasi misal urut rangkingnya, ya saya yang rangking ke 5, gitu πŸ˜€

Tapi beneran deh, punya teman pinter itu g rugi, selain bisa ngerpek pe-er klo udah mentok ga bisa ngerjain, paling ga selalu dapat semangat, hanya dengan melihat cara mereka belajar. Ya meski “kadang-kadang”, mereka punya “dunia” sendiri dibandingkan orang2 biasa macam saya πŸ˜€

Meski ga enaknya juga ada, soalnya berusaha sampek mata bengkak ato otak ber-asap ya ga bisa ngalahin mereka… tp itu saya lo, mkn orang lain beda.

Jadi ceritanya mau ngelanjutin study gitu, guayaaa… Tapi ternyata jalan saya ga lurus, tapi bengkok, naik turun jurang, nyemplung lama juga pernah πŸ˜€

Ketika sohib2 saya sudah melenggang ke negeri orang (bukan negeri alien –> jayus), saya masih aja ndekem disini-sini aja, belum ada progress apa-apa. Padahal niatnya udah dari sebelum lulus tp ada aja halangannya. Yah itulah hidup, ga ada yang mulus (pembelaan diri) πŸ˜€

Dan berhubung udah jam setengah 3, jadi, laporan dulu sama yg ngecat lombok.. bersambung aja dah..

ternyata setelah di preview udah banyak, jadi tak bikin bersambung aja…hehee..